Ngabuburit di Kedai Longgu Sumenep, Sediakan Aneka Takjil

Tahu Walek satu satu menu di Kedai Longgu. Foto:Ria Febriyanti/AreaNews.id

AREANEWS.ID, Sumenep – Pada bulan Ramadan banyak kaum Milenial yang ngabuburit atau menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa. Orang Madura menyebut nyare malem. Pada saat ngabuburit diisi dengan beberapa kegiatan, salah satunya mencari takjil.

Ummat Muslim yang lagi menjalankan puasa Ramadan yang ada di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur tidak perlu bingung mencari takjil atau makanan untuk berbuka puasa. Pasalnya, sebuah kedai yang ada di Desa Banuaju Timur, Kecamatan Batang-Batang menyediakan aneka kuliner.

Di Kedai Longgu yang berlokasi di jalan menuju Wisata Pantai Lombang menyediakan berbagai macam makanan untuk berbuka puasa. Di antaranya, Tahu Walek dan Penthol Tahu.

Selain itu juga menyediakan berbagai macam minuman segar dan menyehatkan yang banyak dicari pada saat menjelang berbuka puasa. Seperti Es Carut Cincau Tiramisu, Es Carut Cincau Stroberi, Es Carut Cincau Melon dan minuman spesial, yaitu Es Ta’al Tanggulih.

“Es Ta’al Tanggulih ini minuman yang banyak diminati konsumen. Khususnya mereka yang datang dari Kota Sumenep,” terang Owner Kedai Longgu, Ria Febriyanti kepada AreaNews.id, Kamis 7 April 2022.

Ta’al merupakan buah pohon siwalan. Pohon siwalan banyak ditemui di desa setempat dan sekitarnya. Rasanya seperti kolang-koling. Sedangkan tanggulih adalah sari pati yang berasal dari air siwalan atau nira. Nira dimasak hingga setengah kental dan jadilah tanggulih. Rasanya manis.

Es Ta’al dipastikan tidak menggunakan pemanis buatan. Selain berbahan ta’al dan tanggulih, minuman yang dibandrol hanya Rp 8.000 per gelas juga berbahan santan murni.

“Selama Ramadan ini (konsumen) meningkat. Saat menjelang buka puasa, antri. (Menu) paling banyak peminatnya ya Tahu Walek dan es Ta’al,” katanya.

Selama Ramadan, sambung Yayan, pihaknya banyak menerima pesanan untuk berbuka puasa bersama. Tetapi, dia mengimbau bagi yang ingin memesan dengan jumlah banyak, sebaiknya memesan minimal tiga hari sebelumnya. Sebab, bahan utama Es Ta’al kadang tidak mencukupi.

“Kalau Ta’al di sini tidak cukup, kami terpaksa harus pesan ke Kecamatan Peragaan. Di sana juga banyak pohon siwalan,” tukasnya sambil tersenyum.

Penulis: Yuanita
Editor: Hokiyanto

 

Pos terkait