Akademisi UIN KHAS Jember Dalami Laku Ekoteologi Masyarakat, Fainta Susilo Negoro: Ekoteologi Tidak Cukup Dibicarakan Dalam Ruang Akademik

Gedung UIN KHAS Jember

AREANEWS.ID, JEMBER – Sebanyak 30 dosen UIN KHAS Jember, Jawa Timur mendalami laku ekoetologi masyarakat. Untuk mendapatkan data dan informasi soal ekoteologi masyarakat, mereka mendatangi para tokoh di Desa Jatiarjo, Prigen, Pasuruan pada Jumat pagi, 17 Oktober 2025.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Workshop Ecotheology Studies: Multidisciplinary Approaches. Kegiatan dengan format bootcamp ekoteologi selama empat hari yang mengajak peserta keluar dari ruang kelas dan menyelam ke kehidupan masyarakat. Tujuannya adalah memahami bagaimana air, iman, budaya, dan perilaku sehari-hari warga saling membentuk ekosistem ekologis di desa.

Bacaan Lainnya

“Ekoteologi tidak cukup dibicarakan dalam ruang akademik. Ia harus dihirup dari udara desa, dari percakapan warga, dari jejak sehari-hari,” kata Pendiri dan Chairperson Jaga Semesta Foundation, Fainta Susilo Negoro saat mendampingi langsung kegiatan ini.

Perlu diketahui, 30 dosen yang bertugas mendalami laku ekoteologi masyarakat dibagi dalam lima kelompok observasi. Setiap kelompok punya fokus, panduan, dan target temuan sendiri.

Kelompok pertama, misalnya, mencatat peta sumber air desa: dari sumur, irigasi, hingga mata air yang menghidupi ladang. Mereka juga menggali keyakinan lokal seperti larangan dan ritual kecil yang menjaga keseimbangan alam.

Kelompok kedua, menyusuri jejak aktivitas manusia, yakni dari pertanian, limbah rumah tangga, hingga kebiasaan membakar sampah. Pertanyaan mereka sederhana namun tajam tentang siapa yang paling rentan saat air kering atau tercemar.

Sementara kelompok ketiga, membuka pintu dimensi spiritual. Mereka berbincang dengan ustadz dan tokoh masyarakat, mendengar doa-doa yang menyebut air sebagai berkah Tuhan. Seorang ustadz di serambi musholla menyampaikan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah.

Kelompok keempat, memetakan pola hidup dan ketahanan air seperti cara warga menghemat air di musim kemarau, parit-parit kecil penyalur air, hingga kesepakatan tak tertulis antarwarga soal pembagian sumber.

Sedangkan kelompok kelima, merekam suara perubahan dan harapan. Warga bercerita tentang sumber air yang dulu melimpah kini mulai menipis, dan tentang keinginan sederhana mereka agar anak cucu kelak tetap bisa minum dari mata air yang sama.

Setelah melakukan observasi, mereka kembali berkumpul di aula terbuka Kampung Kopi Jatiarjo. Hasil observasi dibentangkan dalam bentuk peta, diagram, kutipan warga, dan narasi reflektif. Diskusi antar kelompok berlangsung cair, namun tajam.

Dari bahan mentah lapangan itu, para dosen akan menuliskannya menjadi artikel ilmiah popular, sebuah upaya menggabungkan riset, narasi, dan suara masyarakat. “Yang terpenting bukan hanya data. Tapi bagaimana kita mendengar bumi berbicara lewat masyarakatnya.” tukasnya.

Penulis: Tika

Editor: Hokiyanto

Pos terkait