Pengukuhan Prof. Nur Solikin, UIN Khas Jember Genap Miliki 22 Guru Besar

Prof. Dr. H. Nur Solikin, S.Ag., MH.

AREANEWS.ID, JEMBER – Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Jawa Timur sebagai salah satu perguruan tinggi yang produktif dalam melahirkan guru besar.

Hingga saat ini, UIN Khas telah melahirkan sebanyak 22 guru besar. Terbaru, UIN Khas Jember mengukuhkan Prof. Dr. H. Nur Solikin, S.Ag., MH. Sebagai guru besar bidang Sosiologi Hukum Islam pada Kamis, 23 November 2023.

Bacaan Lainnya

Rektor UIN Khas Jember, Prof Hepni saat pengukuhan mengatakan, meski telah memiliki sebanyak 22 guru besar, pihaknya optimis ke depan akan lebih produktif dalam melahirkan guru besar.

“Ini (Prof. Nur Solikin) adalah guru besar yang ke-22, nanti akan ada lagi yang akan dikukuhkan, yaitu Prof. Faisal,” katanya.

Pria yang pada 19 Oktober 2023 lalu baru diangkat sebagai Rektor UIN Khas lebih lanjut menjelaskan, keberadaan guru besar miliki peran penting dalam kemajuan perguruan tinggi. Salah satunya terkait dengan akreditasi lembaga. Semakin banyak  guru besar sebuah perguruan tinggi, semakin bagus mutu lembaga tersebut.

Pria kelahiran Sumenep ini berharap, agar para guru besar yang dimiliki UIN Khas Jember dapat memberikan pencerahan dan menambah wawasan bagi segenap mahasiswa dengan gagasan-gagasannya yang cemerlang.

“Kehadiran guru besar memang diharapkan dapat memberikan pencerahan untuk kemajuan lembaga,” harapnya.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Nur Solikin, S.Ag., MH, mengatakan, bahwa belakangan sering sakit. Namun meski demikian, dalam waktu 1,5 tahun, bisa melahirkan 6 hingga 7 karya yang bisa diajukan untuk mengurus guru besar. Baik berskala internasional maupun buku-buku yang lain.

“Sehingga walaupun dalam kondisi sering sakit, masih bisa produktif,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengajarkan, sesuai dengan judul film yang diputar pada acara pengukuhan tersebut, “Cogito Ergo Sum”, bahwa orang hidup itu harus berfikir.

“Orang hidup ini harus berpikir. Apalagi di pundak kami ada kata profesor. Kalau kemudian kami menyandang profesor yang berat ini, tanpa mengeluarkan karya. Berarti sama saja wujudihi ka’dhamihii,” terangnya.

Artinya, keberadaan tidak berguna. Jika demikian, dirinya mengaku malu menyandang status guru besar. Pihaknya meminta agar semua yang hadir dalam kesempatan tersebut membuktikan.

“Ini bisa bapak ibu buktikan, ketika saya dikukuhkan (sebagai profesor) apakah saya produktif, apakah tidak. Monggo nanti bisa dinilai sendiri. Dan saya punya niat, sisa hidup saya hanya untuk mengabdi untuk ummat dan negara lewat karya-karya saya,” tukasnya.

Penulis: Sari Widowati
Editor: Hokiyanto

Pos terkait