AREANEWS.ID, SUMENEP – Pecahnya perang di Timur Tengah antara Israel, Amerika dan Iran menjadi atensi dunia. Sejumlah negara kini terlibat langsung maupun tidak langsung. Pasalnya, perang tersebut memberikan efek terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Khsusnya terhadap harga atau ketersediaan minyak setelah Iran menurup Selat Hormus. Sebab, minyak diprediski akan mengalami kenaikan. Sehingga dengan naiknya harga minyak, akan berefek terhadap naiknya harga kebutuhan masyarakat.
Anggota Komisi I DPRD Sumenep, Hairul Anwar menjelaskan, terjadinya perang di Timur Tengah berpotensi menambah angka kemiskinan. Apalagi Kabupaten paling timur Madura ini dalam data statistik sebagai kabupaten termiskin ketiga di Jawa Timur. Sehingga pemerintah daerah perlu melakukan antisipasi dan menganbil langkah strategis agar angka kemiskinan masyarakat tidak semakin tinggi.
“Ini akan berdampak terhadap masyarakat kita. Angka kemiskinan akan bertambah. Dengan harga konsumsi energi yang semakin mahal, tingkat pendapatan yang tetap, pengeluaran semakin banyak. itu akan menaikkan angka kemiskinan,” tegas Hairul Anwar pada Rabu, 11 Maret 2026.
Dengan demikian, sambung politisi Partai Amanat Nasional (PAN) pemerintah pusat tentu telah melakukan antisipasi. Termasuk pemerintah daerah tidak boleh lengah untuk melakukan antisipasi dan persiapan apabila nanti harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik yang otomastis akan berdampak terhadap naiknya barang kebutuhan masyarakat.
Apalagi, Sumenep terdiri dari daratan dan kepulauan. Apabila terjadi kelangkaan BBM atau naiknya BBM, maka yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat yang ada di kepualauan. Sehingga pemerintah mulai saat ini perlu melakukan upaya agar masyarakat tidak mengalami hal terburuk berupa kelangkaan kebutuhan pokok.
“Kita berharap pemerintah daerah punya terobosan. Terutama bagaimana kebutuhan pokok di kepulauan, selama tiga bulan bisa ter-cover. Sehingga dengan naiknya harga BBM, pasti harga transportasi ke kepulauan akan naik,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, beberapa tahun silam pihaknya pernah menyarankan, pemerintah membuat gudang penyanggah kebutuhan pokok di kepulauan. Tetapi, sampai saat ini belum ada gudang penyanggah yang bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi kelangkaan kebutuhan pokok masyarakat ketika terjadi cuaca esktrem atau kelangkaan BBM.
“Kalau sudah terjadi seperti saat ini, kita kelabakan sendiir. Meskipun tentu ada solusi, misal pemerintah daerah Kerjasama dengan bulog untuk nyetok kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat,” tukasnya.
Penulis: Hokiyanto
Editor: Qatrunna






