Oleh: Dr. Wilda Rasaili, M.A
Politik di Madura, Kabupaten Sumenep khususnya selalu menarik perhatian untuk diperbancingkan kaitannya dengan peran tokoh kiai dalam kontestasi. Konfigurasi politiknya cenderung bersifat multipolar ditandai oleh beragam preferensi politik para kiai yang sama sama memiliki pengaruh basis kuat dan ketokohan. Mayoritas kiai-kiai pesantren besar terlibat langung dalam politik, baik dukungan maupun menjadi kontestan.
Tentu ini suatu kemulyaan bagi Kiai untuk membangun kemaslahatan umat melalui jalur politik dan kekuasaan. Saya masih teringat petuah Aristoteles bahwa politik jadi istrumen untuk membangun kebahagian bersama. John Locke, Montesquieu, maupun J. Rousseau mengajarkan politik adalah strategi mempersatukan kepentingan melalui kontrak dan trias politik. Termasuk, misalnya, Moh. Hatta pernah berpidato pada KNIP, 10 Desember 1949, bahwa kemerdekaan bukan tujuan akhir, dan politik adalah caranya; tujuannya untuk kemakmuran rakyat.
“Siapa yang tak berpolitik berarti dia tidak peduli terhadap urusan umat” (Max Horkheimer), dan “buta yang paling parah bukanlah buta mata, melainkan buta politik” (Shakespare Jerman). Perjuangan politik tidak mengenal wilayah abu-abu; mendukung atau mencalonkan diri. Berpolitik berarti siap dengan resiko melawan atau ditentang. Banyak kiai besar masuk ke wilayah yang tampak jelas dalam dinamika politik, setidaknya yang saya kenal sejak Pemilu 1999. Dukunga kiai terhadap partai-partai islam disosialisakan secara lantang, mengajak umat, turun ke gelanggang, orasi diatas panggung, dan bahkan menjadi bagian dalam kandidasi.
Justru di tengah sikap tegas para kiai, K.H. Said Abdullah memilih ajaran politik yang berbeda. Sikap politiknya memang tidak tampak secara terbuka; tidak mendukung siapapun, apalagi mencalonkan diri. Saya mendengar dari beberapa alumni dan masyarakat bahwa beliau tidak pernah memberikan dukungan terhadap kandidat mana pun sejak Pemilu 1999 maupun Pilkada langsung tahun 2005.
Pada tahun 2005, saya menyaksikan langsung ajaran politiknya. Beliau bukan anti politik dan bukan pula tidak berpolitik, melainkan tokoh politik sejati yang mengajarkan keadilan demokrasi, pluralisme politik, serta politik sebagai jalan kemaslahatan. Ditengah polarisasi politik saat ini, ajarannya sangat relevan, bahwa politik bukan tentang mendukung siapa pun, memengkan siapa pun, melainkan tentang keterlibatan, kepekaan dan keharmonisan.
Pada Pilkada 2005, Pesantren Mathali’ul Anwar yang dikenal memiliki aturan ketat terkait keluar-masuk dan pulang-pergi santri justru memberikan libur selama tiga hari bagi seluruh santri tingkat MA. Tujuannya bukan sekedar memberikan waktu istirahat, melainkan memberikan ruang bagi para santri untuk belajar politik secara langsung. Seluruh santri kemudian dikumpulkan, dan pada kesempatan itu beliau menyampaikan pesan-pesan politik yang sarat dengan nilai Pendidikan, demokrasi, dan tanggung jawab sosial.
“Sengak ye nak, mon gik tak paham jek norok ruggeriuk politik. Keng bekan kotu nyoccoh kotu meleh. Sapa se epeleah cakna bekna nak”.
Karena dianggapnya santri masih buta dalam politik. Beliau juga memperkenalkan.
“Satea bedha 5 calon, Busro, K.Ramdlan, H.Mu’ez, K.Bakir dan pasanggannya, kabbih bakhus, ben peleh sepaleng bakhus menorot bekna”,. Kurang lebih begitu pesannya.
Memulangkan santri untuk Pilkada, mengarahkan mereka agar menggunakan hak pilih, serta mengenalkan pasangan-pasangan calon menunjukkan bahwa politik dipandang sebagai sesuai yang penting dan strategis oleh beliau. Namun, hal itu dilakukan melalui Pendidikan demokrasi dan pembelajaran tentang polihan politik yang rasional. Para santri didorong untuk mengenal, memahami, dan menilai setiap calon sesuai dengan kemampuan pengetahuan politik serta pertimbangan kepentingan yang mereka miliki. Inilah pendidikan politik yang sesungguhnya, yang menumbuhkan kesadaran dan nalar kritis, bukan sekadar doktrinasi politik.
Pada setiap Pilkada, bahkan hingga yang terakhir saya ketahui pada Pilkada 2019, banyak kandidat yang bersilaturrahmi kepada beliau. Kandidat yang telah memahami karakter dan prinsip politik beliau datang untuk memohon doa, sedangkan yang belum memahami sering kali datang dengan harapan memperoleh dukungan politik. Tentu beliau memiliki preferensi dan dukungan politik secara pribadi, tetapi hampir mustahil dukungan tersebut diketahui publik. Terlebih lagi, beliau tidak pernah mengajak santri, alumni, maupun para pengagumnya untuk memberikan dukungan yang sama. Dukungan politik beliau bersifat personal dan tidak dimaksudkan untuk memengaruhi pilihan politik santri maupun alumni, sehingga santri-alumni tetap memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan politiknya secara mandiri.
Di antara sebagian alumni, ada yang berupaya mengintip arah dukungan politik beliau, dengan harapan dapat menyelaraskan pilihan politik sebagai bentuk keberkahan dan mengikuti tuntunan guru. Namun, hasilnya tetap sama. Saya belum pernah mendengar beliau mengarahkan untuk mendukung salah satu calon tertentu. Arahan beliau tetap konsisten: sukseskan Pilkada, cerdaskan kehidupan politik, dan jaga agar perbedaan pilihan tidak menimbulkan konflik politik.
Ajaran politik inilah yang hari ini sangat penting untuk dipahami. Di tengah polarisasi politik, misinformasi yang semakin meluas, dan fanatisme politik yang kian mengental, ajaran beliau menghadirkan perspektif yang menyejukkan dan menyehatkan. Politik tidak ditempatkan sebagai arena permusuhan, melainkan sebagai ruang pembelajaran demokrasi, kedewasaan berdemokrasi, dan upaya bersama untuk menjaga harmoni sosial di tengah perbedaan pilihan politik.
Warisan ajaran politik K.H. Said Abdullah merupakan teladan berharga yang patut dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, generasi muda perlu belajar bahwa politik bukan sekadar soal memenangkan kekuasaan atau membela kelompok tertentu, melainkan tentang membangun kemaslahatan, menjaga persaudaraan, dan merawat kehidupan demokrasi yang sehat. Semoga nilai-nilai yang beliau ajarkan rasionalitas dalam memilih, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta komitmen untuk menjaga harmoni sosial dapat terus hidup dalam diri para santri, alumni, dan masyarakat luas, sehingga politik tetap menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan bersama, bukan sumber perpecahan di tengah kehidupan bermasyarakat yang mudah di adu-domba.
Selamat jalan sang Murabbi. Jejak politik kebijaksanaan yang panjenengan wariskan akan terus hidup dalam ingatan, pemikian dan langkah kami. Kepergian beliau meninggalkan duka, tetapi ajaran tentang politik yang menyejukkan dan memersatukan akan tetap menjadi pelita bagi santri-santrinya.
Dr. Wilda Rasaili, S.IP., M.A
(Dosen Politik dan Kebijakan Universitas Wiraraja)






