AREANEWS.ID, SUMENEP – Mencegah stunting terhadap anak merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumenup, Jawa Timur untuk mempersiapkan gerarasi emas pada 2045 nanti. Hal ini sebagai upaya yang perlu ditempatkan sebagai bagian dari investasi Sumber Daya Manusia (SDM).
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojodo menegaskan, kualitas generasi yang akan menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045 perlu dipersiapkan sejak fase paling awal kehidupan, termasuk sejak masa kehamilan hingga anak memasuki periode tumbuh kembang.
“Stunting bagi kami sesungguhnya menjadi konsen penting, karena ini merupakan bagian dari gambaran masa depan bagaimana anak-anak cerdas kita siapkan untuk generasi 2045,” katanya pada, Senin 21 September 2026.
Perhatian terhadap tumbuh kembang anak perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pendampingan tidak cukup diberikan ketika anak sudah mengalami persoalan pertumbuhan, tetapi perlu dilakukan sejak ibu menjalani masa kehamilan. Ibu hamil, ibu pascapersalinan atau menyusui, bayi, hingga balita menjadi kelompok yang membutuhkan pendampingan secara berkesinambungan.
Dalam realiasinya, pemerintah membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari kader, tenaga penyuluh, tenaga kesehatan hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK).
“ Itu menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan kami dengan BKKBN Jawa Timur yang juga membahas penguatan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), pelayanan KB serta percepatan penanganan stunting,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Shodiqin, mengatakan kedatangannya ke Sumenep juga untuk memperkuat komunikasi dan meminta dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan program Kemendukbangga/BKKBN.
“Tujuan kami tentunya memohon dukungan dan komitmen untuk menyukseskan program-program Kemendukbangga/BKKBN di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sumenep,” ujarnya.
Dalam audiensi itu, BKKBN turut menyoroti keterbatasan tenaga Penyuluh Keluarga Berencana (PKB)/Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di Sumenep.
Dengan 27 kecamatan, jumlah PKB/PLKB yang tersedia saat ini sekitar 21 orang. Kondisi tersebut membuat cakupan pembinaan menjadi cukup luas, dengan rasio sekitar satu penyuluh untuk 17 desa. Padahal, idealnya satu PKB membina sekitar dua desa.
Penulis: Qatrunnada
Editor: R. Hidayat






