AREANEWS.ID, SUMENEP – UIN KHAS Jember, Jawa Timur Bersama Pondok Pesantren Ashri menggelar Launching dan Bedah Buku “Hari-hari Revolusi Indonesia: Catatan Harian KH. Abdul Chalim Shiddiq”.
Kegiatan yang digelar di aula kampus tersebut, bukan sekadar peluncuran buku, melainkan ziarah intelektual ke masa revolusi, yakni ke saat pena dan perlawanan saling berpadu dalam diri seorang ulama, Bernama KH. Abdul Chalim Shiddiq.
Wakil Rektor I UIN KHAS Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., menegaskan bahwa makna historis dan ilmiah dari buku itu. Menurutnya, Buku Catatan Harian beliau bukan semata dokumentasi pribadi. Melainkan cara ulama berdakwah secara ilmiah.
“Catatan harian KH. Abdul Chalim Siddiq bukan sekadar dokumentasi pribadi, tetapi bukti bahwa tradisi menulis ulama adalah bentuk dakwah ilmiah yang kini mulai langka,” katanya.
Pasalnya, di era media sosial yang serba cepat, warisan seperti ini menjadi pengingat pentingnya catatan tangan sebagai jejak keilmuan. “Para ulama dulu mencatat dengan hati, bukan hanya untuk mengingat, tapi untuk memberi arah bagi generasi sesudahnya,” tambah Prof. Amal.
Lebih lanjut pihaknya juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam menghidupkan tradisi intelektual Islam.
“Kerja sama ini bukan hanya akademik, tapi juga spiritual antara dunia kampus dan dunia santri yang sama-sama berakar pada ilmu dan pengabdian,” jelasnya.
Sementara itu, Putra KH. Abdul Chalim Siddiq, Gus Muhammad Ayub Saiful Rijal, menyampaikan pesan dengan nada emosional. Ia menuturkan kisah ayahnya yang revolusioner dan berpikiran jauh melampaui zamannya.
Salah satu visi besar Kiai Halim, mendidik perempuan agar menjadi kiai putri. Bukan sekadar istri seorang kiai, tetapi pemimpin keagamaan yang mandiri.
Gus Ayub juga berbagi kisah keluarga Siddiq yang sarat warna, mulai dari sistem administrasi santri yang rapi hingga hubungan lintas budaya antara ayahnya dan seorang perempuan Belanda, yang menunjukkan keluasan pandangan dan keterbukaan pesantren masa itu.
Dalam sesi diskusi panel, Mas Ayung Notonegoro, pendiri Komunitas Pegon, menyingkap dimensi lain dari buku ini. Ia menyebut Catatan Harian KH. Abdul Chalim Siddiq sebagai “harta karun sejarah” yang merekam denyut revolusi di Tapal Kuda, Jawa Timur.
“Dalam setiap lembarannya, kita menemukan semangat jihad, strategi perjuangan, bahkan bahasa sandi yang digunakan untuk menyelamatkan pesan-pesan rahasia dari pihak penjajah,” terang Ayung.
Sementara itu, Gus Rizal Mumaziq, Rektor Universitas Alfalah Assuniyah, menguraikan jaringan perjuangan Kiai Halim yang terhubung dengan milisi dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama di masa revolusi. Ia menegaskan bahwa sejarah perjuangan lokal seperti yang ditulis Kiai Halim layak ditempatkan dalam arus utama historiografi nasional.
Penulis: Tika
Editor: R. Hidayat





