AREANEWS.ID, SUMENEP – Perang yang terjadi antara Israel-Amerika melawan Iran masih berlangsung sengit dan belum ada tanda-tanda segera terjadi gencatan senjata.
Pecahnya perang di timur tengah diprediksi akan menyebabkan harga minyak dunia naik. Apalagi setelah Selat Hormuz ditutup, kapal-kapal tangker pengangkut minyak tidak bisa melewati jalur tersebut.
Anggota Komisi I DPRD Sumenep, Hairul Anwar mengatakan, harga minyak dunia secara signifikan akan naik. Mengingat hampir 30 persen minyak dunia berasal dari Teluk Persia. Ketika Teluk Persia ditutup, akibat dampak petang, maka Indonesia akan kekurangan pasokan minyak.
“Kalau Teluk Persia ditutup akan kekurangan minyak. Terutama kita yang negara neto importir (pengimpor bersih),” kata Hairul Anwar pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Meskipun misalnya, Pemerintah Indonesia bertahan tidak menaikan harga minyak sekalipun, pasti akan membebani terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Apabila beban APBN semakin berat, maka keuangan pemerintah tidak sehat dalam pengelolaannya.
“Kalau membebani APBN, maka APBN kita tidak sehat lagi. Karena akan menanggung beban subsidi yang semakin tinggi,” ujarnya.
Apabila terjadi kenaikan harga minyak, sambung politisi Partai Amanat Nasional (PAN), akan berdampak terhadap bertambahnya angka kemiskinan. Sebab, dengan hal demikian, harga konsumsi energi semakin besar.
“Dengan harga konsumsi energi yang semakin besar, tingkat pendapatan yang tetap dan pengeluaran semakin banyak. Sehingga angka kemiskinan akan semakin banyak. Terutama di Kabupaten Sumenep ini,” tukasnya.
Penulis: Qatrunnada
Editor: Hokiyanto






